Pages - Menu

Minggu, 10 Januari 2016

Sejarah Kerajaan Majapahit


Kerajaan Majapahit yang sempat menjadi salah satu kerajaan maritim terbesar di Nusantara ini berdiri pada tahun 1293 hingga tahun 1500. Masa kejayaan Majapahit ialah ketika Hayam Wuruk mengambil posisi raja dan berkuasa dari tahun 1350 hingga tahun 1389 yang ditandai dengan pendudukan besar-besaran hingga Asia Tenggara. Hasil pekerjaannya ini juga tidak lepas dari patih yang ada di sampingnya pada masa itu, yaitu Gajah Mada. Menurut kitab Negarakertagama yang ditulis pada tahun 1365, Majapahit merupakan sebuah kerajaan dengan 98 daerah jajahan yang membentang dari Sumatera hingga Nugini dan terdiri dari yang sekarang menjadi Indonesia, Singapura, Malaysia, Brunei, Thailand selatan, Kepulauan Sulu, Timor Timur, dan Manila. Meski begitu, ruang lingkup kekuatan Majapahit masih menjadi subjek perdebatan antar sejarawan.
SONY DSC
Awal Berdirinya Kerajaan Majapahit
Setelah mengalahkan Kerajaan Melayu di Sumatera pada tahun 1290, Kerajaan Singasari menjadi kerajaan terkuat di daerah tersebut. Hal ini menggelitik Khan dari Kekaisaran Mongol dan Kaisar dari Dinasti Mongol Yuan yang bernama Kubilai Khan dimana ia mengirim beberapa utusan yang meminta upeti. Raja Kertanegara yang saat itu adalah raja terakhir kerajaan Singasari menolak untuk membayar upeti dan malah menghina serta menantang Kubilai Khan, dan sebagai responnya dikirim lah 1.000 kapal ekspedisi menuju Jawa dari Mongolia. Sayangnya, ketika pihak Mongol menyerang, Kertanagara telah tewas di tangan Jayakatwang yang merupakan adipati Kediri. Ketika itu, Raden Wijaya yang merupakan menantu Kertanegara diberikan sebuah tanah bernama Tarik yang ia gunakan untuk membangun sebuah desa yang menjadi awal mula sejarah Berdirinya kerajaan Majapahit. Ketika pasukan Mongol tiba, Raden Wijaya langsung memilih untuk membantu mereka menghancurkan Jayakatwang. Setelah kekuasaan Jayakatwang runtuh, Raden Wijaya menyerang pasukan Mongol. Kebingungan, pasukan Mongol tersebut terpaksa mundur dan mengikuti tiupan angin monsoon terakhir pada musim itu.
Pada tahun 1293, Raden Wijaya mendirikan benteng dan kota Majapahit. Tahun ini juga menjadi tahun lahirnya Majapahit serta hari dimana Raden Wijaya menjadi raja. Pada pengangkatannya, ia diberikan sebuah nama formal yaitu Kertarajasa Jayawardhana. Raja Kertarajasa kemudian menjadikan keempat anak perempuan Kertanegara menjadi istri-istrinya. Pendirian kerajaan ini dipenuhi dengan kesulitan dimana beberapa orang terpercaya Kertarajasa termasuk Ranggalawe, Sora, dan Nambi bersekongkol untuk melakukan pemberontakan yang sayangnya gagal. Setelah diselidiki, ternyata mahapati Halayudha lah yang disangka menjadi dalang konspirasi ini agar ia sendiri mampu menduduki posisi yang paling tinggi di pemerintahan kerajaan Majapahit. Halayudha akhirnya berhasil ditangkap dan dihukum mati sebagai balasan atas penipuan yang ia lakukan.
Silsilah Kerajaan Majapahit
Setelah memulai pembicaraan tentang Sejarah kerajaan Majapahit, ada baiknya jika kita langsung mempelajari silisilah kerajaan maritim terbesar ini pada masa tersebut. Sesungguhnya, kerajaan Majapahit merupakan kelanjutan dinasti raja Singosari, sebuah kerajaan yang dibentuk oleh Sri Ranggah Rajasa pendiri dinasti Rajasa pada abad 13. Orang yang pertama kali mendirikan kerajaan Majapahit dan menjadi raja pertama ialah Raden Wijaya. Pendirian kerajaan Majapahit berhutang banyak kepada tentara Mongol yang mendarat di Tuban untuk menhancurkan kerajaan Singasari yang pada masa itu telah jatuh di tangan Jayakatwang. Ketika penyerangan terjadi, Raden Wijaya bekerja sama dengan pasukan Mongol dan menyerang mereka setelah Singosari runtuh dan akhirnya pasukan Mongol yang sudah lemah karena banyak faktor terpaksa mundur dari pulau Jawa. Pada saat inilah Raden Wijaya memulai perjalanan awal dari kerajaan Majapahit dan mengemban nama Kertarajasa Jayawardhana.
Penerus dari Kertarajasa Jayawardhana adalah Jayanagara yang nama aslinya adalah Kalagamet. Kisah tentang Jayanagara yang merupakan anak dari Raden Wijaya dituliskan dalam beberapa catatan termasuk Paraton dan Negarakertagama. Pada masa permerintahannya jugalah Gajah Mada mulai bangkit sebagai satu figur yang penting. Kerajaan Majapahit pada masa pemerintahan Jayanagara sangat kacau dan sulit, dimulai dengan beberapa pemberontakan dari jendral-jendral dan pangeran dari Raden Wijaya yang tidak puas. Pemberontakan yang paling terkenal adalah pemberontakan Ra Kuti pada tahun 1319, dimana Ra Kuti berhasil mengambil alih kontrol kerajaan dan ibu kota. Dengan bantuan Gajah Mada dan pasukan Bhayangkara, Jayanegara berhasil kabur dari ibu kota dan bersembunyi di desa Badander. Sementara Gajah Mada kembali dan menghancurkan pemberontakan oleh Ra Kuti. Sejarah kerajaan Majapahit lalu dilanjutkan oleh Tribhuwana Wijayatunggadewi yang juga dikenal sebagai Dyah Gitarja. Era pemerintahan Wijayatunggadewi adalah masa dimana Gajah mada ditunjuk sebagai patih dan mulai terobsesi pada ekspansi kerajaan.
Masa kekuasaan Wijayatunggadewi berakhir pada tahun 1350 dan kemudian dilanjutkan dengan pemerintahan raja ke-4 Majapahit, yaitu Hayam Wuruk yang juga dikenal dengan nama Rajasanagara. Masa pemerintahan Hayam Wuruk dinilai sebagai era keemasan dalam sejarah kerajaan Majapahit karena pada masa inilah Majapahit berhasil mengembangkan sayapnya ke seluruh daerah kepulauan Indonesia. Hayam Wuruk yang ketika menjadi raja berumur 16 tahun, awalnya diharapkan menikah dengan Dyah Pitaloka Citraresmi, seorang putri dari kerajaan Sunda. Pernikahan ini merupakan sebuah pernikahan dengan latar belakang politik demi memperbaik aliansi antara Majapahit dan Kerajaan Sunda. Meski begitu, tiba-tiba terjadi insiden Bubat dimana pihak penjaga Kerajaan Sunda terlibat pertikaian dengan tentara Majapahit dan pernikahan berakhir dengan tewasnya Dyah Pitaloka. Gajah Mada kemudian menjadi kambing hitam pada insiden ini karena ia ingin membuat Kerajaan Sunda tunduk. Hayam Wuruk turun tahta pada tahun 1389 menyusul kematiannya. Setelah Hayam Wuruk tidak lagi memerintah, bisa dibilang kerajaan Majapahit juga berakhir karena setelahnya, kerajaan Majapahit terus menurun kekuatannya dan akhirnya terpaksa mundur menuju pulau Bali.

Kamis, 07 Januari 2016

Sejarah Kerajaan Kalingga – Kerajaan Hindu-Budha Pertama di Jawa Tengah


Sejarah kerajaan Kalingga dimulai pada abad ke-6 dan merupakan sebuah kerajaan dengan gaya India yang terletak di pesisir utara Jawa Tengah. Belum diketahui secara pasti dimana pusat kerajaan ini berada, tapi beberapa ahli memprediksikan bahwa tempatnya ada di antara tempat yang sekarang menjadi Pekalongan dan Jepara. Tidak banyak yang dapat diketahui dari kerajaan ini karena sumber sejarah yang ada juga hampir nihil dan mayoritas catatan tentang sejarah kerajaan Kalingga didapat dari kisah-kisah Tiongkok, cerita turun-temurun rakyat sekitar, dan Carita Parahyangan yang menceritakan tentang Ratu Shima serta kaitan ratu tersebut dengan kerajaan Galuh. Ratu Shima juga dikenal karena peraturannya yang kejam dimana siapapun yang tertangkap basah mencuri akan dipotong tangannya.
Awal Mula Berdirinya Kerajaan Kalingga
Awal Berdirinya Kerajaan Kalingga diperkirakan dimulai pada abad ke-6 hingga abad ke-7. Nama Kalingga sendiri berasal dari kerajaan India kuno yang bernama Kaling, mengidekan bahwa ada tautan antara India dan Indonesia. Bukan hanya lokasi pasti ibu kota dari daerah ini saja yang tidak diketahui, tapi juga catatan sejarah dari periode ini amatlah langka. Salah satu tempat yang dicurigai menjadi lokasi ibu kota dari kerajaan ini ialah Pekalongan dan Jepara. Jepara dicurigai karena adanya kabupaten Keling di pantai utara Jepara, sementara Pekalongan dicurigai karena masa lalunya pada saat awal dibangunnya kerajaan ini ialah sebuah pelabuhan kuno. Beberapa orang juga mempunyai ide bahwa Pekalongan merupakan nama yang telah berubah dari Pe-Kaling-an.
Sejarah Kerajaan Kalingga - Kerajaan Hindu-Budha Pertama di Jawa Tengah
Pada tahun 674, kerajaan Kalingga dipimpin oleh Ratu Shima yang terkenal akan peraturan kejamnya terhadap pencurian, dimana hal tersebut memaksa orang-orang Kalingga menjadi jujur dan selalu memihak pada kebenaran. Menurut cerita-cerita yang berkembang di masyarakat, pada suatu hari seorang raja dari negara yang asing datang dan meletakkan sebuah kantung yang terisi dengan emas pada persimpangan jalan di Kalingga untuk menguji kejujuran dan kebenaran dari orang-orang Kalingga yang terkenal. Dalam sejarahnya tercatat bahwa tidak ada yang berani menyentuh kantung emas yang bukan milik mereka, paling tidak selama tiga tahun hingga akhirnya anak dari Shima, sang putra mahkota secara tidak sengaja menyentuh kantung tersebut dengan kakinya. Mendengar hal tersebut, Shima segera menjatuhkan hukuman mati kepada anaknya sendiri. Mendengar hukuman yang dijatuhkan oleh Shima, beberapa orang memohon agar Shima hanya memotong kakinya karena kakinya lah yang bersalah. Dalam beberapa cerita, orang-orang tadi bahkan meminta Shima hanya memotong jari dari anaknya.
Dalam salah satu kejadian pada sejarah kerajaan Kalingga, terdapat sebuah titik balik dimana kerajaan ini terislamkan. Pada tahun 651, Ustman bin Affan mengirimkan beberapa utusan menuju Tiongkok sambil mengemban misi untuk memperkenalkan Islam kepada daerah yang asing tersebut. Selain ke Tiongkok, Ustman juga mengirim beberapa orang utusannya menuju Jepara yang dulu bernama Kalingga. Kedatangan utusan yang terjadi pada masa setelah Ratu Shima turun dan digantikan oleh Jay Shima ini menyebabkan sang raja memeluk agama Islam dan juga diikuti jejaknya oleh beberapa bangsawan Jawa yang mulai meninggalkan agama asli mereka dan menganut Islam.
Seperti kebanyakan kerajaan lainnya di Indonesia, kerajaan Kalingga juga mengalami ketertinggalan saat kerajaan tersebut runtuh. Dari seluruh peninggalan yang berhasil ditemukan adalah 2 candi bernama candi Angin dan candi Bubrah. Candi Angin dan Candi Bubrah merupakan dua candi yang ditemukan di Keling, tepatnya di desa Tempur. Candi Angin mendapatkan namanya karena memiliki letak yang tinggi dan berumur lebih tua dari Candi Borobudur. Candi Bubrah, di lain sisi, merupakan sebuah candi yang baru setengah jadi, tapi umurnya sama dengan candi Angin.
Kerajaan Kalingga Dalam Catatan Bangsa Tionghoa
Kerajaan Kalingga dikenal juga dengan nama kerajaan Ho-ling oleh orang-orang Tionghoa. Menurut catatan bangsa Tionghoa, Ho-ling dipercaya muncul ketika terjadi ekspansi besar oleh dinasti Syailendra. Kisah tentang kerajaan Ho-ling mulai ditulis dalam kronik dinasti Tang yang ada pada tahun 618 hingga 906. Menurut kronik tadi, orang-orang Ho-ling dipercaya gemar makan hanya menggunakan tangan dan tanpa sendok maupun sumpit. Tertulis juga di kroik tadi bahwa para masyarakat Ho-ling suka mengonsumsi tuwak, sebuah sari buah yang difermentasikan. Ibu kota dari Ho-ling dikelilingi oleh pagar kayu, dan sang raja tinggal di sebuah istana berlantai 2 dan daun palma sebagai atapnya. Sang raja duduk pada sebuah kursi yang terbuat dari gading dan menggunakan keset yang terbuat dari bambu. Ho-ling juga diceratakan memiliki sebuah bukit yang ia namakan Lang-pi-ya. Beberapa sumber lain dari catatan Tionghoa menuliskan sebuah analisa tentang lokasi dari kerajaan Ho-ling ini. Ia menuliskan bahwa Ho-ling berlokasi di Jawa Tengah dan bahwa La-pi-ya menghadap ke arah samudra membuat lokasi Ho-ling jadi agak lebih mudah diketahui.
Raja atau ratu yang saat itu memegang kepala pemerintahan Ho-ling tinggal di kota bernama She-p’o, tapi Ki-yen kemudian memindahkan lokasi pemerintahan menuju P’o-lu-Chia-ssu. Menurut catatan, diperkirakan bahwa ada kebingungan yang meliputi masa-masa terakhir kerajaan Ho-ling atau Kalingga ini. Ada dua teori besar tentang hal ini, dimana teori yang pertama adalah ketika Sanjaya yang masih merupakan cucu dari Shima mengambil alih pemerintahan. Ia mengubah kerajaan Kalingga yang bercorak Buddha menjadi kerajaan Mataram yang memiliki corak hindu. Cerita lain tentang sejarah kerajaan Kalingga ialah tentang bagimana Patapan yang merupakan salah satu pangeran dari dinasti Sanjaya merebut kursi penguasa dan menjadi raja pada tahun 832, dimana Mataram terus menjadi pengemulasi aturan-aturan Sailendra.
Sekian dulu informasi mengenai Sejarah Kerajaan Kalingga yang memiliki catatan sejarah penting dalam perkembangan Kerajaan Hindu-Budha di Jawa Tengah. Semoga dapat menambah wawasan dan pengetahuan anda semua. Terima kasih telah mengunjungi Kumpulan Sejarah.

Selasa, 05 Januari 2016

Sejarah VOC di Indonesia

Sejarah VOC di Indonesia merupakan bagian dari masa kolonisasi Eropa yang terjadi pada tahun 1512 hingga tahun 1850 dan berlanjut pada tahun 1945 hingga 1950. Setelah sebelumnya berhasil mengusir pergi Portugis, pihak Belanda mendirikan kantor cabang VOC di Indonesia dengan pos pertama yang mereka dirikan terletak di daerah Banten pada tahun 1603 dan di Jayakarta yang nantinya berubah nama menjadi Batavia pada tahun 1611. Meskipun tujuan awal mereka datang ke Indonesia adalah untuk memonopoli tukar menukar rempah, mereka yang biasa menggunakan kekerasan untuk mendapatkan rempah kemudian mulai terlibat dalam masalah-masalah politik yang terjadi di sekitaran pulau Jawa sehingga tidak jarang mereka terlibat perang di beberapa daerah sebelum akhirnya dinyatakan bangkrut pada tahun 1800 dan segala kepentingan di Indonesia diserahkan kepada pemerintahan Hindia Belanda.
Sejarah VOC di Indonesia
Awal Mula Tibanya VOC di Indonesia
Sejarah VOC di Indonesia mungkin tidak akan terjadi jika pada tahun 1596, anggota ekspedisi Belanda tidak kehilangan setengah kru kapalnya, tidak membunuh pangeran Jawa, dan tidak kehilangan kapal namun berhasil kembali ke Belanda dengan rempah yang banyak. Dari ekspedisi yang juga butuh biaya besar baik materi maupun nyawa pasukan mereka, pihak Belanda mendapatkan untung yang sangat besar dari penjualan rempah yang berhasil mereka dapatkan. Hal tersebut mendorong mereka untuk melakukan ekspedisi lagi dengan tujuan mendapatkan keuntungan yang jauh lebih tinggi. Demi menekan timbulnya pesaing yang akan memotong keuntungan mereka, pemerintah Belanda menyatukan para perusahaan perdagangan yang saling bersaing menjadi sebuah perusahaan besar dengan nama Vereenigde Oostindische Compagnie (Persatuan Dagang Hindia Timur, VOC). Pada tahun 1602, States-General Belanda memberikan VOC kebebasan untuk melakukan monopoli rempah di Asia selama 21 tahun, dan VOC juga dianugerahi kekuatan quasi-pemerintahan termasuk kemampuan untuk mengadakan perang, memenjarakan dan membunuh tawanan, membuat perjanjian, mengeluarkan uang, dan mendirikan koloni.
Sejarah VOC di Indonesia pertama kali tercatat ketika pada tahun 1603, mereka mendirikan pos perdagangan permanen di Banten yang terletak di bagian barat daya Jawa. Pos kedua mereka didirikan pada tahun 1611 di Jayakarta. Pada tahun 1604, pihak VOC kembali menjalankan pelayaran kedua mereka dan kali ini yang menjadi target adalah Maluku. Pada masa dimana banyak terjadi pendirian pos dagang ini, mulai terjadi kompetisi di sekitar Nusantara antara Inggris dan Belanda dalam hal akses terhadap rempah-rempah. Akhirnya, persetujuan diplomatis dan kerjasama antara Inggris dan Belanda mengenai perdagangan rempah berakhir dengan Pembantaian Ambon dimana 10 pasukan Inggris ditangkap, disiksa, dan dibunuh sebagai hasil dari konspirasi mereka kepada pemerintahan Belanda. Kejadian tersebut menuntut Inggris menarik seluruh pasukan yang telah mereka tempatkan di Indonesia kecuali Banten.
Pendudukan Absolut VOC akan Indonesia
Pada tahun 1610 hingga 1619, sejarah VOC di Indonesia terfokus pada posisi markas besar mereka yang berada di Ambon. Meskipun markas mereka ada di daerah yang merupakan pusat produksi rempah, daerah tersebut adalah area yang jauh dari rute dagang Asia dan aktivitas VOC lainnya yang membentang dari Afrika hingga Jepang. Karena hal ini, mereka mulai mencari daerah baru sebagai markas besar dan beberapa daerah mulai menjadi perhitungan. Salah satu daerah yang sempat mereka jadikan markas adalah selat Malaka yang dinilai strategis, tapi sayangnya Portugis sudah menduduki daerah tersebut dan membuatnya menjadi berbahaya. Baru pada tahun 1619 ketika Jan Pieterszoon Coen diangkat menjadi Gubernur Jenderal VOC, serangan terhadap Banten dilaksanakan dengan pasukan yang berisi 19 kapal, dan dari sisa-sisa Jayakarta, mereka membangun kota baru yang diberi nama Batavia sebagai markas baru.
Pada masa pemerintahan Coen, keberadaan VOC di Indonesia semakin kuat dengan idenya untuk membuat Batavia sebagai pusat dagang intra-Asia yang membentang dari Jepang ke Tiongkok, Burma, Kepulauan Indonesia, Ceylon, dan bahkan Persia. Hal ini ia peroleh dengan mempekerjakan prajurit sewaan dari Ambon dan buruh Tiongkok untuk mengembangkan ambisinya. Meskipun rencana ini tidak berhasil direalisasikan, Coen berhasil memperkuat kekuatan VOC di Indonesia dengan membuat aliansi bersama Sultan Ternate pada tahun 1607 untuk mengontrol produksi cengkeh, dan pendudukkan kepulauan banda memberi mereka kendali akan perdagangan pala. Pada tahun 1641, pihak Belanda juga berhasil mengambil alih Malaka dari Portugis dan memberikan mereka kontrol akan laut sekitar.
Pada pertengahan abad ke-17, Batavia telah menjadi pusat dagang yang penting. Beberapa kali juga kota tersebut telah berhasil menghalau serangan dari kerajaan Mataram. Pihak VOC juga berhasil menundukkan Makassar pada tahun 1667 dan mengambil alih pelabuhan di Sumatra pada tahun 1660, menyebabkan semakin kuatnya VOC di Indonesia. Pada masa-masa itu, VOC harusnya terfokus pada pendirian pos dagang baru dan sebisa mungkin menjauh dari urusan politik dari kerajaan manapun, tapi pada kenyataannya mereka terlalu jauh masuk dalam konflik internal Jawa.
Pada tahun 1740-an, mulai banyak pemberontakan terhadap VOC yang dimulai dengan pembantaian orang-orang etnis maupun keturunan Tionghoa pada 9 Oktober 1740. Bermula dari Mei tahun 1741, beberapa pos VOC mulai diserang dan dihancurkan. Pada bulan November 1741, Pakubuwono II mulai turun tangan membantu orang-orang Tionghoa untuk mengepung pos VOC dengan total pasukan 20.000 orang Jawa, 3.500 orang Tionghoa, dan 30 pucuk meriam. Pada tanggal 1 Januari 1800, Belanda kalah perang dan VOC dibubarkan karena beberapa alasan seperti kebangkrutan yang mengakhiri sejarah VOC di Indonesia.

Mendalami Sejarah Munculnya Aliran Syi’ah Dalam Islam

Sejarah munculnya Syi’ah Islam dimulai dalam beberapa babak, dan babak pertama adalah meninggalnya nabi Muhammad SAW pada tahun 632 hingga perang Karbala pada tahun 680. Syi’ah merupakan aliran/ajaran terbesar kedua dengan Sunni masih menjadi yang paling besar. Ajaran Syi’ah sendiri tetap mengikuti ajaran yang ditetapkan oleh nabi Muhammad SAW dan dengan bimbingan dari keluarga-keluarganya (yang juga dikenal dengan nama Ahlul Bait) atau keturunannya, dikenal juga sebagai Imam Syi’ah. Keturunan nabi Muhammad SAW hanya berlanjut dari anaknya, Fatima Zahra, dan sepupunya, Ali, yang bersama dengan cucu-cucunya membentuk Ahlul Bait. Fakta inilah yang membuat Syi’ah menganggap keturunan nabi Muhammad SAW sebagai sumber yang tepat untuk pedoman hidup dan menilai masa pemerintahan tiga khalifah Sunni hanya sebagai kejadian sejarah, bukan sesuatu yang terkait dengan kepercayaan.
Mendalami Sejarah Munculnya Aliran Syi’ah Dalam Islam
Sejarah Berkembangnya Aliran Syi’ah
Sejarah munculnya Syi’ah bermula ketika nabi Muhammad SAW tutup usia pada tahun 632 dan terjadi perselisihan dalam tubuh komunitas Muslim tentang siapa yang akan melanjutkan nabi sebagai pemimpin umat Islam. Ketika Ali bin Abi Thalib dan keluarga dekat nabi Muhammad SAW sedang memandikan jenazahnya untuk dikebumikan, pemimpin umat-umat Islam di Mekah dan Madinah mengadakan pertemuan rahasia di Saqifah untuk menentukan siapa yang menjadi penerus Nabi Muhammad SAW sebagai pemimpin negara Muslim terlepas dari pendapat para Muhajirin (orang-orang Muslim pertama) bahwa nabi Muhammad SAW telah menunjuk Ali sebagai penerusnya. Akhirnya setelah mengalami beberapa penolakan dan percekcokan, Abu Bakar dipilih sebagai khalifah pertama berkat Umar bin Khatab yang menominasikannya. Keputusan ini dicecar oleh sahabat-sahabat pertama nabi Muhammad SAW yang bersikeras bahwa Ali lah yang seharusnya menjadi penerus nabi mengingat nabi pernah menunjuknya.
Terpilihnya Abu Bakar sebagai penerus nabi Muhammad SAW menuai protes yang datang dari keluarga nabi beserta mayoritas Muhajirin, dimana mereka semua lebih memilih Ali yang menjadi penerus. Terpilihnya Abu Bakar berlanjut dengan sebuah serbuan menuju rumah Ali yang dipimpin oleh Umar dan Khalid bin Walid. Kejadian perebutan status penerus nabi merupakan sebuah isu yang sering menimbulkan perdebatan. Karena hal ini jugalah umat Muslim terbagi menjadi dua cabang tergantung dengan pandangan politik mereka terhadap isu ini yang juga menciptakan dinding teologis antara Sunni dan Syi’ah. Kedua kelompok ini juga memiliki pandangan yang berbeda tentang sikap Ali kepada Abu Bakar dan kedua khalifah yang meneruskannya yaitu Umar bin Khatab dan Usman bin Affan. Pihak Sunni cenderung menekankan bahwa Ali menerima keputusan yang ada dan membantu para khalifah, sementara Syi’ah mengklaim bahwa Ali menjauhkan diri dari mereka. Muslim Sunni juga menambahkan jika Ali memang penerus nabi Muhammad SAW seperti yang diharapkan Allah, maka kewajiban Ali lah untuk memerangi para khalifah, dan Muslim Syi’ah selalu berdalih bahwa Ali tidak maju berperang karena kurangnya kekuatan militer dan kalaupun ia memutuskan untuk berperang, akan terjadi perang sipil antara umat Muslim yang masih dianggap sebagai komunitas baru di dunia Arab.
Masa Pemerintahan Ali
Awal kemunculan Syi’ah tidaklah berjalan mulus, terutama dengan penolakan Ali sebagai khalifah yang meneruskan perjuangan nabi Muhammad SAW. Baru pada masa ketika khalifah Usman dibunuh pada tahun 657-lah umat Muslim di Madinah membujuk Ali penuh putus asa agar ia mau menjadi khalifah keempat yang akhirnya ia setujui. Ali kemudian membangun ibu kotanya di Kufah yang sekarang menjadi Iraq. Masa pemerintahan Ali mengalami banyak ujian, dan banyak perang yang ditujukan untuk menjatuhkannya. Karena hal tersebut, Ali harus berusaha mempertahankan kekuasaan yang ia miliki untuk melawan orang-orang yang mengkhianatinya maupun mereka yang menginginkan posisinya.
Kekacauan yang ada pada masa Ali menyebabkan terjadinya Fitnah Pertama, yang menuntun kepada terjadinya perang sipil antara kekhalifahan Islam untuk pertama kalinya. Fitnah ini dimulai dengan beberapa gelombang protes terhadap Ali yang menjadi imam pertama karena terbunuhnya Usman sebagai pendahulu politiknya. Meskipun beberapa orang percaya bahwa Usman melakukan nepotisme dan menyetujui kekhilafahan Ali, orang-orang itu akhirnya berbalik menyerangnya. Ali kemudian terbunuh pada sekitar tahun 661 ketika sedang dalam posisi sujud, dan Muawiyah yang menjadi pesaing utama Ali mengambil alih kekhalifahan.
Kejadian penting lainnya dalam awal kemunculan Syi’ah adalah pengimaman Ahlul Bait. Pengimaman Ahlul Bait ini dimulai dengan kaum Zaydis yang menyempitkan klaim politik dari pendukung Ali bahwa yang dapat memimpin umat Muslim hanyalah keturunan laki-laki dari pernikahan Ali dan Fatimah. Meski begitu ketika terjadi pemberontakan Abbasid, kaum Syi’ah lainnya yang dikenal sebagai Imamiah (pengikut para imam) mengikuti sekolah teologi milik Ja’far al-Sadiq yang merupakan cucu dari Ali. Sejak saat ini, hampir seluruh pengikut Syi’ah menjadi Imami. Para Imami ini percaya bahwa para Imam adalah penerus politik dan spiritual dari nabi Muhammad SAW. Menurut mereka, para Imam juga tidak hanya memerintah komunitas Muslim dengan keadilan, tapi juga mampu menjaga dan menginterpretasi hukum Islam dan pengertian esoteriknya.
Pada masa modern ini, masalah yang dialami populasi Muslim Syi’ah adalah jika Syi’ah tidak mencapai suatu angka yang signifikan di negara Islam, seluruh populasi Muslim di tempat tersebut akan dianggap sebagai Muslim Sunni. Nyatanya, penganut paham Syi’ah di Asia Selatan sendiri mencapai 21-35% total penduduk dan hanya sekitar 10-20% penduduk dunia yang menganut paham ini. Negara-negara seperti Iran, Irak, Azerbaijan, Yaman, dan Bahrain merupakan daerah yang memiliki Syi’ah sebagai paham mayoritas, dan daerah-daerah tadi juga yang berperan besar dalam menuliskan perkembangan Sejarah munculnya Syi’ah

Sejarah Berdirinya Kota Semarang

Sejarah Berdirinya Kota Semarang


Sejarah berdirinya kota Semarang yang terletak di sisi pantai utara pulau Jawa ini bisa ditelusuri jauh hingga abad ke-6, dimana daerah tersebut dulunya merupakan daerah pesisir dengan nama Pragota, juga merupakan sebuah bagian dari kerajaan tua di Indonesia, yaitu kerajaan Mataram Kuno. Kini, daerah dengan total area 373.70 km3 ini memiliki populasi sebanyak 2 juta jiwa, menjadikannya kota ke-6 di Indonesia yang memiliki penduduk terbanyak, dan kota terbesar di Indonesia setelah Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Medan. Dulu, kota Semarang merupakan sebuah kota dermaga yang besar dan maju ketika masa kolonial Belanda, dan hingga sekarang tetap menjadi daerah pusat untuk hal-hal yang berbau maritim.
Sejarah Semarang di Masa Kuno Kerajaan Indonesia
Awal Sejarah berdirinya kota Semarang dimulai pada masa dimana daerah ini masih menjadi sebuah bagian dari kerajaan Mataram Kuno. Pada masa itu, daerah Semarang yang masih bernama Pragota merupakan daerah khusus pelabuhan, dimana di bagian depan dari daerah ini adalah gugusan pulau-pulau kecil yang karena terjadi pengendapan mulai menyatu dan membentuk daratan. Bagian tersebut kemudian menjadi daerah yang lebih dikenal sebagai Semarang Bawah. Pelabuhan yang dulu sempat besar ini diperkirakan ada di tempat Pasar Bulu sekarang, dan terus terbentang hingga daerah Pelabuhan Simongan dimana pada tahun 1435 pernah menjadi tempat Cheng Ho menyandarkan kapal dan armadanya. Di tempat itu juga Cheng Ho mendirikan sebuah masjid dan kelenteng yang masih aktif dikunjungi masyarakat dan diberi nama Kelenteng Sam Po Kong yang berarti Gedung Batu.
Sejarah Berdirinya Kota Semarang
Pangeran Made Pandan (Sunan Pandanaran I) tiba-tiba ditempatkan sebagai penyebar agama Islam oleh Kerajaan Demak pada akhir-akhir abad ke-15. Ketika masa Made Panda tiba, daerah Pragota tempat ia berdakwah menjadi semakin subur seiring dengan berjalannya waktu. Pada masa kesuburan inilah muncul sebuah pohon asam yang warnanya seperti arang, yang oleh masyarakat Jawa disebut Asem Arang, dan hal ini yang menjadikan Pragota berubah nama menjadi Semarang meskipun awalnya hanya menjadi gelar atau nama panggilan bagi daerah tersebut. Pendiri desa pertama daerah tersebut, Made Pandan diberi gelar Kyai Ageng Pandan Arang I dan dibuat sebagai kepala daerah. Ketika ia wafat, kepemimpinan berpindah tangan kepada putranya, dan diberi gelar Pandan Arang II dan nantinya mendapatkan gelar-gelar lain seperti Sunan Bayat, Ki Ageng Pandanaran, Sunan Pandanaran II, atau bahkan hanya Sunan Pandanaran.
Perkembangan Semarang pada masa pemerintahan Pandan Arang II mulai menunjukkan perubahan yang sangat drastis, dan perubahan ini menarik perhatian salah satu petinggi Pajang, yaitu Sultan Hadiwijaya. Mengingat daerah Semarang tersebut sudah memenuhi persyaratan untuk peningkatan daerah. Semarang kemudian diputuskan berubah menjadi Kabupaten pada tanggal 2 Mei tahun 1547 yang kebetulan pada waktu itu bertepatan dengan Peringatan Maulid Nabi Muhammad. Pengesahan daerah ini menjadi Kabupaten dilakukan oleh Sultan Hadiwijaya setelah sebelumnya melewati konsultasi panjang kepada Sunan Kalijaga, dimana kemudian tanggal 2 Mei ditetapkan sebagai hari berdirinya kota Semarang.
Pada tahun 1678, Amangkurat II yang berasal dari Mataram berjanji untuk memberikan Semarang kepada pihak VOC. Perjanjian ini dibuat oleh Amangkurat untuk membayar hutang-hutangnya. Hingga ditahun 1705, akhirnya Semarang benar-benar diserahkan kepada pihak VOC sebagai imbalan setelah mereka membantu Pakubuwono I merebut Kartasutra. Mulai masa itu Semarang menjadi kota milik VOC yang kemudian berpindah tangan kepada pemerintah Hindia-Belanda. Pada tahun 1906 melalui Stanblat no. 120 dibentuklah pemerintahan kota besar dengan Burgemeester sebagai pemimpinnya, ia masih terus mengikuti Belanda sebelum kepemimpinannya berakhir pada tahun 1942 dikarenakan Jepang tiba di Indonesia.
Kebijakan yang telah diterapkan oleh Kota Semarang akhirnya berganti setelah kependudukan Jepang di Indonesia dimulai, sebab oleh Jepang pimpinan daerah diubah menjadi dibawah pimpinan pihak militer Jepang (Shico) yang didampingi dua wakil (Fuku Shico) dimana salah satunya adalah orang Jepang dan yang lainnya adalah orang Indonesia. Beberapa saat setelah proklamasi kemerdekaan terjadi, tepatnya pada tanggal 15 hingga 20 Oktober tahun 1945, beberapa tentara Jepang yang ada di Semarang bersikeras tidak mau memberikan kontrol akan kota tersebut kepada pasukan kemerdekaan. Akhirnya perang yang memperoleh sebutan Pertempuran Lima Hari ini memakan beberapa korban, dimana salah satu yang tewas adalah seorang dokter muda berbakat yang bernama dr. Kariadi. Tokoh-tokoh kunci pada perang ini adalah:
  • dr. Kariadi
    Dokter muda yang berniat untuk mengecek cadangan air ketika berhembus kabar bahwa Jepang berencana untuk meracuni air cadangannya. Ia tetap berniat untuk pergi padahal istrinya telah memohon untuk tetap tinggal di rumah.
  • Mr. Wongsonegoro
    Pada masa itu, Mr. Wongsonegoro merupakan Gubernur yang dipilih untuk daerah Jawa Tengah. Beliau sempat ditangkap oleh pasukan Jepang.
  • Dr. Sukaryo & Sudanco Mirza Sidharta
    Mereka berdua merupakan korban lain penangkapan pasukan Jepang, bersamaan dengan Mr. Wongsonegoro.
  • Mayor Kido
    Pemimpin Kidobutai pada masa itu, dimana pusat Kidobutai terletak di Jatingaleh.
  • Kasman Singodimejo
    Perwakilan yang diutus untuk menjembatani gencatan senjata.
  • Jenderal Nakamura
    Jenderal tawanan TKR di Magelang.
Sejarah berdirinya kota Semarang meskipun diwarnai merah darah karena pertempuran 5 hari, tetaplah menjadi bagian sejarah Indonesia. Demi memeringati kejadian tersebut, dibangunlah Tugu Muda yang diharapkan berperan sebagai pengingat kepada masyarakat Semarang tentang kejadian perang di masa lalu. Tugu ini dibangun pada tanggal 10 November 1950 dan diresmikan pada 20 Mei 1953.

Benarkah Nabi Muhammad SAW Adalah Orang Keturunan Jawa yang Hidup di Arab ?

Benarkah Nabi Muhammad SAW Adalah Orang Keturunan Jawa yang Hidup di Arab ?


Benarkah nabi Muhammad SAW adalah orang keturunan Jawa yang hidup di Arab ? Pertanyaan aneh tersebut pernah menuntun kepada banyak perdebatan di media sosial bahkan dalam beberapa pengajian. Pertanyaan ini muncul sekitar tahun 2011 ketika salah satu pengguna sosial media dengan akun @SufiKota memaparkan pandangan yang dimiliki Cak Nun tentang garis keturunan nabi Muhammad SAW. Memang dalam sejarahnya sendiri kurang diketahui secara jelas silsilah keluarga dari ibunda Muhammad karena ada beberapa ketidak konsistenan dalam biografi Aminah sendiri. Beberapa sumber mengatakan bahwa Aminah tinggal bersama Ayahnya sementara yang lainnya berkata bahwa Aminah tinggal dibawah perlindungan kakeknya, Wahib bin Abdul Manaf.
Masa Kecil Nabi Muhammad SAW
Sebelum menjawab pertanyaan tentang “benarkah nabi Muhammad SAW adalah orang keturunan Jawa yang hidup di Arab?” ada baiknya kita mempelajari tentang perjalanan hidup nabi Muhammad SAW sewaktu ia kecil. Nabi Muhammad SAW yang memiliki nama panjang Muhammad bin Abdullah ini lahir pada tahun 570 M. dari hasil cinta Siti Aminah dan Abdullah bin Abdul Muttalib. Muhammad kecil hidup sebagai salah satu anggota Bani Hashim, salah satu keluarga di Mekkah yang cukup berpengaruh meskipun pada masa-masa awal hidup nabi Muhammad SAW, keluarga ini tidak begitu makmur. Ayahnya meninggal dunia ketika nabi Muhammad SAW masih berumur 6 bulan dalam kandungan, menyebabkan Aminah terpaksa melahirkan nabi Muhammad SAW sendirian. Demi mengikuti tradisi keluarga besar di Arab waktu itu, Muhammad harus dikirim untuk tinggal di padang pasir. Ada dua sumber yang menceritakan alasan kenapa Muhammad dikirim, dimana salah satu mengatakan bahwa tradisi Arab mengatakan kalau bayi yang hidup di padang pasir bisa mempelajari disiplin, budi luhur, dan kebebasan. Sementara sumber lain mengatakan bahwa Muhammad dikirim hanya karena keadaan di padang pasir lebih baik untuk bayi. Selama hidupnya di padang pasir, Muhammad diasuh oleh Halimah binti Abi Dhuayb, seorang wanita Badui dari kaum Bani Sa’ad.
Benarkah Nabi Muhammad SAW Adalah Orang Keturunan Jawa yang Hidup di Arab
Ketika berumur 2 tahun, nabi Muhammad SAW kembali pulang dan bertemu dengan ibunya. 3 tahun berlalu dan Aminah mengajak nabi Muhammad SAW untuk pergi ke Yathrib (sekarang Madinah) demi bertemu keluarga dari sisi Aminah dan memperkenalkan kota itu kepada Muhammad kecil, dan mereka menghabiskan satu bulan tinggal di Yathrib. Hal yang tidak diinginkan selalu terjadi, dan begitu juga kali ini ketika mereka sedang melakukan perjalanan pulang. Baru berjalan 23 mil dari Yathrib bersama budak mereka Ummi Ayman, Aminah jatuh sakit dan meninggal dunia pada tahun 577 dimana jenazahnya kemudian dikebumikan di desa Abwa’. Kehilangan ibunya membuat Muhammad kecil menjadi seorang yatim piatu, dan kemudian ia diasuh oleh kakeknya yang bernama Abdul Muttalib.
Dugaan Nabi Muhammad SAW Adalah Keturunan Jawa
Tidak banyak sejarah masa muda Muhammad yang dapat menjawab pertanyaan “apa benar nabi Muhammad SAW merupakan keturunan Jawa yang hidup di Arab?”, karenanya akan lebih baik jika kita langsung melihat kepada pernyataan Cak Nun tentang “kejawaan” Muhammad. Dugaan pertama adalah bahwa nabi Muhammad SAW menolak siapapun menggambar wajahnya demi satu alasan, yaitu untuk menghindari kontroversi yang kemungkinan akan terjadi ketika ia tutup usia mengenai bagaimana kontur wajah atau ciri fisiknya yang diduga tidak mirip dengan orang-orang arab kebanyakan.
Ciri lainnya yang dipaparkan oleh pemilik akun @SufiKota ialah cara nabi Muhammad SAW berjalan, dimana biasanya orang Arab berjalan dengan mendongakkan kepala dan angkuh. Nabi Muhammad SAW cenderung berjalan dengan cara yang santun dan jika diibaratkan “seperti menuruni bukit yang tinggi” karena cara berjalan nabi Muhammad SAW ialah badan atas agak membungkuk dengan kaki yang kuda-kudanya kuat. Selain itu, cara nabi Muhammad SAW berbicara sungguh lembut, tidak seperti masyarakat Arab masa itu yang cenderung keras. Hal lainnya adalah kebiasaan nabi Muhammad SAW untuk bertapa yang tidak dimiliki oleh masyarakat Arab.
Hal lain yang memungkinkan terjawabnya pertanyaan “benarkah nabi Muhammad SAW adalah orang keturunan Jawa yang hidup di Arab?” adalah nama sang Ibu, yaitu Siti Aminah. Salah satu sumber telah mengonfirmasi bahwa dalam kehidupan masyarakat Arab tidak ada satupun nama Siti yang merupakan Arab tulen. Kemungkinan lainnya muncul jika menelusuri garis keluarga nabi Muhammad SAW yang berasal dari nabi Ibrahim AS dan Siti Hajar. Nama Siti Hajar sendiri diduga bukan nama yang biasa digunakan oleh orang Arab karena Hajar berarti batu, dan orang Arab percaya bahwa nama adalah do’a, jadi diperkirakan tidak mungkin seorang Arab memberikan nama anaknya “batu”. Beberapa orang beranggapan bahwa nama Siti Hajar datang dari bahasa Jawa dimana Siti berarti tanah atau bumi, dan Hajar muncul dari kata ajar atau mengajar.
Perlu diperhatikan bahwa dari semua hal yang tertulis di atas, tidak pernah ada konfirmasi nyata ataupun bukti yang menguatkan bahwa nabi Muhammad merupakan keturunan orang Jawa yang tinggal di Arab. Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa bukan hanya orang Jawa yang memiliki cara berjalan seperti penuturan pemilik akun @SufiKota, tapi juga orang Jepang. Untuk kebiasaan bertapa juga ada beberapa kritik bahwa hal tersebut lebih banyak dilakukan oleh orang-orang beragama Hindu, yang tidak menutup kemungkinan bahwa Muhammad bukanlah keturunan Jawa melainkan keturunan India yang mayoritasnya Hindu. Jadi, benarkah nabi Muhammad SAW adalah orang keturunan Jawa yang hidup di Arab ? Biarkanlah ini menjadi rahasia yang mungkin hanya Allah yang tahu.

Sejarah Tari Barong Bali

Sejarah Tari Barong Bali


Tari Barong Bali merupakan satu dari begitu banyak bentuk seni yang ada di Bali. Tarian Barong ialah sebuah tari tradisional yang biasa ditandai dengan adanya topeng hewan berkaki empat yang besar dan kostumnya dikenakan oleh satu hingga dua orang. Tarian ini merupakan peninggalan kebudayaan pra-Hindu dan bercerita tentang hal paling klise, yaitu pertentangan antara kebaikan dan kejahatan. Meskipun biasanya Barong digambarkan sebagai seekor macan atau singa, banyak juga jenis-jenis Barong lainnya seperti Barong Keket, Babi, dan Landung. Keket sendiri adalah lembu yang oleh masyarakat Bali dikenal sebagai Raja Hutan dengan nama Banaspati Raja. Ingin tahu bagaimana sejarah selengkapnya mengenai Tari Barong Bali ini ? Berikut Kumpulan Sejarah akan menyajikannya secara ringkas dan jelas untuk anda.
Sejarah Tari Barong Bali
Asal Usul Tari Barong
Kata “barong” dipercaya muncul dari kata bahrwang yang secara bebas dapat diartikan sebagai beruang. Beruang ini dipercaya sebagai sebuah kekuatan mistis, hewan mitos yang memiliki kekuatan gaib tinggi sehingga dipuja sebagai pelindung. Beberapa sumber mengatakan bahwa sejarah tari Barong Bali merupakan saduran dari cerita masyarakat Tiongkok yaitu Barongsai, sementara beberapa orang lainnya menganggap ada perbedaan yang sangat jelas antara Barongsai dan Barong dimana menurut mereka tarian Barong memiliki nilai cerita yang baik serta tidak jarang diselingi oleh humor yang segar sehingga dapat menjaga penonton agar tidak bosan. Tarian Barong ini menceritakan tentang kisah yang paling sering diceritakan dalam cerita rakyat manapun yaitu tentang pertempuran antara pihak baik melawan pihak jahat. Sepanjang sejarah tari Barong Bali, pihak yang baik selalu digambarkan dengan sosok Barong, makhluk buas berkaki empat yang di dalamnya dikendalikan oleh dua orang penari. Pihak jahat juga selalu digambarkan dengan sama, yaitu Rangda, sebuah sosok mirip wanita menyeramkan yang memiliki dua buah taring besar di mulutnya.
Ada pandangan yang berbeda tentang sejarah tari Barong Bali ini, dimana salah satu pandangan menyatakan bahwa tari Barong merupakan sebuah seni yang sudah sejak lama ada di Indonesia, sebuah kesenian bawaan dari masyarakat Austronesia. Pandangan ini juga memberitakan bahwa kisah yang dimainkan dalam tari Barong merupakan kisah tentang Bhatara Pancering Jagat dan istrinya yang bernama Ratu Ayu Pingit Dalem Dasar. Pandangan lainnya tentang Barong muncul dari itihasa Bali dimana tari Barong muncul dari cerita suci dan bukan dongeng. Dipercaya kisah tentang Barong dan Rangda ini berkaitan dengan cerita ketika Siwa mencari Dewi Uma.
Kali pertama dalam sejarahnya tari Barong Bali dijadikan pertunjukkan adalah pada abad ke-19 dimana pada saat itu Raja Kelungkung yang memiliki nama atau julukan Ida I Dewi Agung Sakti meminta diadakannya pertunjukkan yang bentuknya adalah wayang orang dengan total penari sekitar 36 orang dimana sebagian dari penari tadi harus berperan sebagai pasukan dari seekor raja kera dan sebagian lagi berperan sebagai pasukan rahwana. Para penari ini kemudian diharuskan mengenakan topeng dan busana yang terbuat dari serat yang bernama braksok. Saking populernya, pertunjukkan tersebut kemudian diberi nama Barong Kadingkling atau Barong Blasblasan yang jika berkunjung ke suatu desa, diyakini pohon kelapa yang ada di desa tersebut menjadi amat sangat subur.
Jenis-Jenis Barong dan Rangda Dalam Tari Barong Bali
Dalam pengaplikasian dan perkembangan tari Barong Bali, ada beberapa jenis topeng yang dikenakan oleh penari utama. Yang paling sering dipentaskan adalah Barong Ket, sebuah tarian yang wujudnya nampak seperti perpaduan antara singa, macan, dan sapi. Badan dari Barong ini memiliki hiasan ukir yang terbuat dari kulit dan ditempeli cermin sehingga nampak berkilau. Bulu-bulu yang ada di badan Barong Keket ini juga terbuat dari perasok, serat dari daun yang mirip dengan pandan, ijuk, bahkan tak jarang terbuat dari bulu milik burung gagak.
Barong berwujud hewan kedua, dalam sejarahnya dikenal dengan nama Barong Bangkal yang terkadang disebut juga Barong Celeng. Sesuai namanya, Barong ini memiliki bentuk yang menyerupai seekor bangkal atau bangkung, seekor babi besar yang umurnya sudah tua. Barong jenis ini biasa dipentaskan pada hari-hari keramat dengan cara dibawa berkeliling desa.
Jenis Barong hewan yang terakhir ialah Barong Macan yang sesuai namanya, berwujud macan. Salah satu jenis Barong yang terkenal baik oleh kalangan masyarakat Bali maupun masyarakat luar Bali. Biasa dipentaskan dengan cara diarak mengelilingi desa dan dilengkapi macam-macam peralatan drama seperti gamelan dan lainnya.
Jenis barong yang lain ialah Barong Landung yang tidak lagi berbentuk hewan dan lebih mirip seperti Ondel-ondel Jakarta. Cerita yang meliputi Barong Landung ialah Barong ini merupakan penggambaran dari Raja Kerajaan Bali yang bernama Jaya Pangus dimana ia mempersunting seorang putri Tiongkok bernama Kang Cing Wei. Cerita dalam pementasan Barong Landung berpusat pada bagaimana pernikahan antara kedua manusia tadi tidak direstui oleh para dewa karena Jaya Pangus dinilai telah melanggar adat dan ketika tidak dapat memiliki keturunan ia pergi menemui Dewi Danu dan dijadikan properti milik Dewi tersebut sehingga terjadi pertikaian antara istrinya dengan sang Dewi.
Selain Barong, pihak lain dalam kisah Barong adalah Rangda yang digambarkan sebagai ratu dari para leak yang ada. Rangda digambarkan sering menculik dan memangsa anak-anak kecil dan memimpin sepasukan penyihir jahat untuk membasmi Barong. Layaknya Barong, ada beberapa jenis Rangda yang ada dan yang pertama adalah Rangda Nyinga yang berbentuk seperti singa dan mulutnya sedikit menonjol untuk menggambarkan bahwa Rangda tersebut memiliki sifat buas seperti singa. Jenis kedua ialah Rangda Nyeleme yang wajahnya mirip dengan manusia demi menandakan bahwa Rangda tersebut berwibawa. Jenis Rangda terakhir ialah Rangda Raksasa yang merupakan gambaran Rangda pada umumnya. Jenis-jenis Rangda ini menambah variasi dalam penceritaan sejarah tari Barong Bali.